Nama :
Satri Yusasra Agasi
Tempat, tanggal lahir :
Pk.Raba’a, 17 Juni 1997
Alamat :
Darussalam
Pekerjaan :
Mahasiswi
Hobi :
Membaca
Email :
satriagasi17@gmail.com
Melanjutkan
pendidikan ke bangku kuliah dan memilih Universitas Syiah Kuala adalah
cita-cita saya dari kecil. Semenjak kejadian Tsunami 11 tahun silam saya memili
keinginan untuk melanjutkan pendidikan saya di Tanah Rencong ini. Mengingat
begitu hebatnya bencana yang menghancurkan aceh saat itu, berita televis tidak
luput dari tiu, disanalah saya memiliki keinginan yang tinggi untuk melanjutkan
pendidikan disini. Serta Aceh adalah Povinsi yang memiliki pendidikan agama
yang baik. Keinginan saya pertama mendapat penolakan dari kedua orang tua saya,
mengingat jarak yang begitu jauh dari kota kelahiran saya yaitu Payakumbuh dan
ditambah kecemasan orang tua saya dengan kondisi saya yang bisa di bilang
sering keluar masuk rumah sakit waktu SMA. Tapi dengan keyakinan yang kuat saya
tetap memilih Universitas Syiah Kuala untuk melanjutkan pendidikan. Saya lulus
di Universitas Syiah Kuala melalu jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi
Negeri (SNMPTN) dengan pilihan jurusan, pilihan pertama Kedokteran Hewan dan
Peternakan sebagai pilihan kedua. Karna keyakinan saya untuk lulus di
Universitas Syiah Kuala di salah satu jurusan yang saya pilih tinggi, saya
tidak mengisi pilihan ketiga. Saya hanya memilih dua jurusan untuk satu
Universitas. Setelah hari pengumuman SNMPTN keluar tepatnya 9 Mei 2015 tepat jam
17.00 WIB saya langsung mencek kelulusan dan ternyata saya luus di Peternakan
Universitas syiah Kuala. Bahagia luar biasa karna keyakinan saya berbuah manis.
Keyakinan saya di jawab Allah. Syukur yang luar biasa saya panjatkan kepada
Allah SWT. Mama, papa dan keluarga lainnya begitu bahagia karena saya bisa
lulus di Universitas Syiah Kuala dengan nilai Rapor, keluarga merasa senang
karena saya bisa lulus tanpa harus mengikuti tes dan bersaing dengan ribuan
orang di Indonesia. Tapi rasa di balik kebahagian mama papa ada rasa kuatir
untuk melepas saya ke Aceh, karena mengingat jarak Banda Aceh dengan Payakumbuh
yang begitu jauh dan kondisi kesehatan saya yang bisa di bilang lemah. Tapi
mama papa tetap rela melepas saya karena keinginan saya yang kuat untuk kuliah
di Universitas Syiah Kuala. Mama papa percaya saya bisa lebih baik disini
karena keinginan yang kuat. Bahkan mama papa membuat syukuran untuk kelulusan
saya dan untuk keselamatan saya selama disini. Sekarang udah semester Dua saya
di jurusan Peternakan Universitas Syiah Kuala saya memiliki cita-cita yang
tinggi saya ingin menjadi Dosen Peternakan setelah lulus di peternakan
Universitas Syiah Kuala.
Saya juga ingin membalikkan pola pikir
masyarakat tentang kuliah di peternakan. Banyak di kalangan masyarakat yang
menyepele kan kuliah di peternakan. Saya tidak tahu dengan pasti apa
penyebabnya. Menurut hasil duga-dugaan, penyebab dari penyepelean itu sangat
lah banyak dan untuk mengetahui nya dengan pasti maka harus di lakukan survei
yang mendalam.
Jika kita pergi ke sekolah-sekolah
seperti SMP dan SMA lalu menanyakan kepada murid murid yang ada di sana tentang
tujuan mereka untuk melanjutkan kuliah di jurusan apa, maka 2% dari 100% yang
mempunyai keinginan untuk melanjutkan jenjang pendidikan S1 di Peternakan.
Mereka rata-rata ingin kuliah di dokter, ekonomi, hukum dan teknik. Sangat
minim sekali yang mempunyai keinginan untuk kuliah di peternakan. Mungkin salah
satu penyebab nya adalah karena mereka belum mengetahui nya. Mereka beranggapan
kuliah di peternakan itu tidak ada masa depan, ketika tamat menjadi
pengangguran atau menjadi seperti kabayan yang mengembala sapi di pinggir
sawah.
Sebenarnya peternakan lah yang ketika
tamat dari kuliah lalu tidak mengaggur. Sarjana peternakan ketika tamat dari
kuliahnya bisa memelihara sapi, kambing atau pun memelihara ayam dengan ilmu
yang sudah di milikinya. Berbeda denga jurusan jurusan lain yang ketika tamat
membutuhkan lowongan pekerjaan agar mereka bisa bekerja. Peternakan itu
mandiri. Apabila tidak bekerja di perusahaan, maka bisa membuka lapangan kerja
sendiri.
Ada juga yang berpendapat “Ngapain
kuliah di peternakan. Pulang ke kampung lalu pelihara sapi pun bisa juga tanpa
kuliah”. Untuk memelihara 1 sampai 10 ekor memang bisa tanpa ada nya kuliah.
Tetapi jika memelihara sapi dalam jumlah yang banyak, misal memelihara sapi
sebanyak 200 ekor. Jika tanpa ilmu, sangat kecil kemungkinan untuk bisa
memelihara sapi-sapi tersebut.
Saya sangat ingin mengubah pemikiran
pemikiran mereka akan hal itu. Tidak selamanya potret peternak itu jelek di
kalangan masyarakat. Tanpa peternak, mereka semua tidak bisa makan daging sapi,
mereka tidak bisa minum susu dan mereka juga tidak bisa makan telur ayam.
Peternak lah yang membuat mereka bisa mengenal 3 sumber protein hewani itu. Tidak
pantas peternak itu di kucilkan.
Awalnya, keraguan saya untuk terjun ke dalam dunia peternakan
ialah mengenai pengubahan pengetahuan mengenai ilmu. Namun semuanya telah
terjawab oleh revolusi paradigma yang menyatakan bahwa usaha selalu berbanding lurus
dengan hasil. Tujuan mencari ridho Sang Maha Pencipta dalam menjalankan
kehidupan merupakan titik awal untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia.
Mengatasi masalah importasi daging, usaha pencapaian swasembada daging,
peningkatan kualitas produk peternakan Indonesia, pembinaan para peternak
kecil, sanitasi peternakan, sistem pakan, sistem jagal, dan pemenuhan protein
hewani masyarakat Indonesia merupakan segelintir permasalahan yang membutuhkan
tangan-tangan mahasiswa peternakan. Bukan sekedar mahasiswa yang bertitel
sarjana melainkan mahasiswa yang memang telah kompeten dan layak mendapat gelar
sarjana. Kobarkan semangat pergerakan ke arah yang lebih baik untuk kemajuan
bersama.
Jurusan peternakan menawarkan
prospek lapangan pekerjaan yang memadai. tinggal di negara yang memiliki
potensi luarbiasa dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, yang
seharusnya diimbangi dengan jumlah sumber daya manusia yang juga harus dapat
memanfaatkan keanekaragama sumber daya alam.
SAYA BANGGA KULIAH DI PETERNAKAN !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar